Awan kecil, Marcos dan Revolusi Cinta
Ah kawan, engkau tentu tahu bagaimana aku amat menggagumi Subcommandante Marcos. Orang yang dianggap "penjahat" oleh Amerika, dianggap "pengganggu" oleh pemerintah Meksiko, amun bagiku ialah orang yang melatih aksara untuk memecah kebisuan, semulia kehormatan, selembut cinta, setajam belati dan mempunyai daya ledak bagai peluru. Pada satu hari sang komandan pun mendongeng….ya, bagai seorang kakek bercerita pada cucunya. Cerita indah nan bermakna, bagai meletakkan sedikit nafas hidup yang terbuang kepada sang penerus.
Alkisah pada suatu hari terdapat awan kecil, begitu kecilnya hanya segumpal. Ia yang selalu terpinggirkan, diasingkan oleh sekumpulan awan besar. Ketika suatu hari ia merubah dirinya menjadi setetes hujan….hujan yang memberi nafas dan kehijauan, hujan yang membuat kehidupan muncul dari dalam perut bumi…walau ia terlupakan namun setetes rintik air itu tak pernah tersia-siakan.
Engkau mungkin bertanya padaku wahai kawan, apa yang ingin kutulis? sabarlah…sebelumnya aku ingin bertanya padamu "apa engkau begitu percaya akan dogma dan rekayasa realita yang dijejalkan kepadamu tiap hari?". Aku a\tak begitu percaya wahai kawan ketika aku masih melihat jika seorang manusia masih hrus mengais tempat sampah sekedar mengganjal perut, dan aku tak begitu percaya ketika aku melihat masih ada anjing yang dihidupi jauh lebih layak dari kumpulan orang-orang terbuang.
Engkau mungkin bosan mendengarkan aku selalu mendendangkan lagu "Revolusi" dan aku pun tak kan heran jika engkau mengganggapku telah gila. Tapi apakah engkau akan bertanya "apa revolusimu dilandasi kebencian?", jika ya akan kujawab engkau benar namun engkau pun salah. Ya, kebencianku terhadap segelintir lintah yang menghisap darah mengalir….padahal SANG ARSITEK memberikan kita ruang untuk bernafas. Tidak, engkau salah karena sang Nabi utusan Tuhan berpeluh, meneteskan air mata dan BERDARAH karena cinta. Cinta kepada kehidupan yang mulia, dimana tak ada seorang manusia yang mengangkat dirinya sebagai sistem dimana dia menjadi "tuhannya", sebuah keadaan dimana manusia dimanusiakan seperti fitrahnya. Tak perlu seorang utusan Tuhan yang mulia dan ma’sum , yang membawa pesan cinta Tuhan kepada manusia namun seorang gerilyawan terasing seperti Ernesto Guevara bertarung dengan cinta, cinta untuk menghapus ketidakadilan, kebengisan dan kezaliman dimana segelintir merampas kemanusiaan kebanyakan manusia lainnya.
Cinta…sehalus sutra, setajam belati namun dengan cinta racun terasa lebih manis dari gula. Dengan cinta Marcos, Ernesto, Gandhi dan manusia-manusia lainnya berdarah dan meneteskan air mata dan karena cinta Muhammad sang manusia mulia sampai akhir kata dapat berkata….ummati…ummati…Allahumma Sholi ala Muhammad wa ala alishollihi Muhammad.
Dan cinta….apa itu cinta ?

