Antara sebuah kewibawaan sejati dan artifisial
Belum lama ini kalo kita melek sama yang namanya berita pasti denger sebuah aliran yang pendirinya konon mengaku -tidak tanggung - tanggung- sebagai “tuhan” !. Agus Imam Solichin namanya, pendiri aliran Satrio Piningit Weteng Buwono yang berkembang di sebuah kawasan Jakarta Selatan. Untungnya memang gak seheboh kasus Ahmadiyah atau Lia Aminudin yang secara luar biasa dibela mati - matian oleh sekelompok “cendekiawan Muslim”, mungkin “cendekiawan” itu manusia - manusia yang telah tercerahkan rupanya. Jujur secara logika gue sulit menerima “tuhan” berbentuk manusia apalagi dengan seragam manusia dongeng….anyway, unek unek gue itu sebenernya setelah gue nonton berita di tivi barusan. Di stasiun ANTV, pemimpin yang sudah diciduk polisi ini tadinya akan disuruh ikut tes kejiwaan walah akhirnya gak jadi alias batal. Tapi kita bisa lihat gimana stress, capek dan gugupnya padahal baru aja ditanya dengan nada suara yang dikerasin dikit. Entah logika apa yag bisa menerima “tuhan” seperti ini, “tuhan” yang lemah dan gugup.
Bukannya menghujat tapi gue justru berusaha berpikir untuk sampai pada “kebenaran” (setidaknya pada tahap awal untuk gue sendiri) setelah denger “ajaran” pseudo - reliji tersebut yang menyatakan bahwa penganut agama tersebut dilarang sholat dan zakat. Ok, masalah sholat gue gak bisa komentar jauh dimana gue snediri nyadari kalo solat gue kualitasnya belum baik walau bisa dipahami kalau sholat adalah semacam “tribute” dari hamba kepada TUAN nya. Mengenai zakat dalam Islam zakat ini bukan sekedar memainkan fungsi terhadap satu individu saja walau fungsi dalam kaitan ini adalah membersihkan harta seorang hamba. Zakat dalam perspektif Islam juga adalah bentuk kepedulian terhadap kelompok/golongan lain yang memang belum beruntung (sengaja gue pake kata beruntung, karena menurut gue kata ‘tidak beruntung’ adalah sebuah proses pemiskinan oleh sistem kapitalisme atau sistem jahiliyah apapun yang menyetujui hak - hak sebuah kaum dirampas oleh kaum yang lebih kuat). Dengan melarang untuk zakat maka “tuhan” yang ini menunjukkan bahwa ia adalah “tuhan” yang bakhil atau pelit, dan tidak menganjurkan untuk membantu kelompok - kelompok melarat, miskin dan menderita dan jika sudah seperti ini tuhan macam apa ini? kalau sampai banyak yang percaya bahwa ada “tuhan” seperti ini maka tunggulah kekacauan yang segera akan timbul dan sebenarnya manusia lah yang berkuasa dengan membajak argumen - argumen suci agama, dan mungkin saja Freud bisa tertawa di di neraka karena seolah - olah “nubuat” nya adalah benar kalau tuhan sudah mati……. Sayyid Quthb telah lama berkomentar soal ini, ia mengatakan: “ada sebuah fenomena kasat mata yang selalu berulang, yakni setiap kali seorang makhluk Allah mengangkat dirinya menjadi seorang thaghut yang disembah selain Allah maka ia harus menundukkan seluruh kekuatan dan tenaga: pertama, untuk melindungi dirinya. Kedua, untuk menuhankan dzat - nya. Ia juga membutuhkan kaki tangan, pengawal, sarana & prasarana, terompet - terompet yang sellau memuji menyanjungnya dan meniup sosok kehambaannya yang kerdil agar menjadi besar dan bisa menempati kedudukan ketuhanan yang besar!” dan jika demikian bukankah kita wahai manusia, sebagai massa terdidik apakan kita akan percaya bualan kosong orang - orang yang membajak kekuatan progresif agama untuk kepentingan perutnya? jika iya, sia - sialah usaha kita mempelajari kehidupan ini dan hidup di dalamnya. Kita hidup di dunia untuk tujuan yang mulai dan bukan untuk menuruti semua keinginan perut dan kelamin, dan sayang….banyak manusia belum mengerti ini dan seakan - akan menuhankan ego serta segala keinginan pribadi mereka diatas penderitaan orang lain, alangkah hinanya……
