Hari ini aku bersiul - siul
Menjelang PEMILU, alias Pesta Demokrasi negeri ajaib bernama Indonesia ini kita udah bisa ngeliat para peserta yang abis - abisan tampil mengkilap ganteng - ganteng dan cantik - cantik. Wuidiiiih…jangan salah bujet bikin spanduk, flyer sampe bilboard seakan jadi rezeki buat perusahaan - perusahaan cetak dan sablon yang menuai rezeki dadakan saat ini. Semua datang dengan dagangan yang sama “bela rakyat”…gue sih gak tau rakyat yang mana, dan entah mereka “wakil” yang tinggal di negeri mana. Kontroversi juga udah merebak, bahkan sampai fatwa haram kalo gak ikutan pesta ini sudah dikeluarkan…hebatnya, masyarakat yang harusnya jadi subyek otoritas fatwa ini banyak yang protes dan menuding otorita tersebut seakan hidup dalam sebuah kesadaran naif. Tapi sudahlah, untuk menghibur hati kita sebelum datangnya “pesta” yang entah berarti apa buat kita..ini ada sebuah puisi. Ya, puisi yang kembali mengingatkan kita bahwa siapapun yang kita pilih sebenernya mereka sudah teralienasi dari kita dan tak sedetik pun mereka akan perjuangkan kepentingan kaum tertindas…layaknya kita…bunga yang tumbuh mekar dengan satu tujuan bahwa dinding penindas kelak harus kita rubuhkan. Puisi ini ditulis oleh Wiji Thukul, sang penyair yang hilang pada akhir era kekuasaan brutal Orde Baru, ini untuk kita kaum marjinal..dan ini untuk mengenangmu pula kawan!:
Hari ini aku akan bersiul - siul :
Wiji Thukul
Pada hari coblosan nanti
Aku akan masuk ke dapur
Akan kujumlah gelas dan sendokku
Apakah jumlahnya bertambah
Setelah PEMILU bubar?
Pemilu o pilu pilu
Bilan hari coblosan tiba nanti
Aku tak akan pergi ke mana – mana
Aku ingin di rumah saja
Mengisi jambangan
Atau menanak nasi
Pemilu o pilu pilu
Nanti akan kuceritakan kepadamu
apakah jadi penuh karung beras
minyak tanah
gula
atau bumbu masak
setelah suaramu dihitung
dan pesta demokrasi dinyatakan selesai
nanti akan kuceritakan kepadamu
Pemilu o pilu pilu
Bila tiba harinya
Hari coblosan
Aku tak akan ikut berbondong bondong
Ke tempat pemunguan suara
Aku tidak akan datang
Aku tidak akan menyerahkan suaraku
Aku tidak akan ikutan masuk
Ke dalam kota suara itu
PEMILU
O pilu pilu
Aku akan bersiul – siul
Memproklamasikan kemerdekaanku
Aku akan mandi
Dan bernyanyi sekeras – kerasnya
Pemilu o pili pilu
Hari itu aku akan mengibarkan hakku
Tinggi tinggi
Akan kurayakan dengan nasi hangat
Sambel bawang dan ikan asin
Pemilu
O pilu pilu
Sambel bawang dan ikan asin
10 Nopember ’96