Bapak Kumis yang terhormat….
Bapak Kumis yang terhormat…
Tidak terasa sudah diujung masa kursi mu akan reyot dimakan “rayap-rayap”…
Rayap - rayap yang bisa menjelma jadi raksasa berebut ingin pula duduk di kurismu…
Rayap yang justru bilang kalau mereka adalah “rayap terbaik” yang dipunyai hutan rimba kita ini…
Bapak Kumis yang terhormat…
Tak kerasa kenyamanan juga membuat kumismu makin kinclong…
Bagaimana tidak, bukankah Istana menyediakan segalanya
Semir sepatu, rambut, bahkan semir kumis dan kopiah serta setelan jas buatan luar negeri yang bikin bapak makin berwibawa…
Bapak Kumis yang terhormat…
Salut saya dengan bapak dengan semangat tolong - menolong yang anda miliki
Dengan hebat anda bilang “kalau saya tidak membantu bukankah ini diskriminasi?”
Pantas lah si rayap bau lumpur itu bisa tersenyum lebar dengan itu jadi rayap paling kaya di hutan kita ini….
Tapi Bapak kumis yang terhormat….
Apa Bapak tahu apa itu “diskriminasi” ?
Dimana “diskriminasi” ketika si rayap bau lumpur itu menenggelamkan sarang penduduk hutan kita….megep - megep boro - boro gak ada yang bantuin
Kata si rayap bau lumpur itu “sudah!” ooo…sudah…
Dimana “diskriminasi” ketika bapak Kumis sibuk “meresmikan” landasan untuk capung - capung mancanegara bisa mampir….ehh pasirnya malah ngeruk jatah makan orang….
Bapak Kumis yang terhormat….
Bapak memang hebat….
Bisa senyum dengan meyakinkan seolah - olah tak terjadi apa - apa
Mungkin bapak memang sadar kalau perilaku manusia kadang tak lebih baik dari penghuni hutan….
Vale !