tempat sampah gue…

November 22nd, 2008

Bapak Kumis yang terhormat….

Posted by fahmip in politik

Bapak Kumis yang terhormat…

Tidak terasa sudah diujung masa kursi mu akan reyot dimakan “rayap-rayap”…

Rayap - rayap yang bisa menjelma jadi raksasa berebut ingin pula duduk di kurismu…

Rayap yang justru bilang kalau mereka adalah “rayap terbaik” yang dipunyai hutan rimba kita ini…

 

Bapak Kumis yang terhormat…

Tak kerasa kenyamanan juga membuat kumismu makin kinclong…

Bagaimana tidak, bukankah Istana menyediakan segalanya

Semir sepatu, rambut, bahkan semir kumis dan kopiah serta setelan jas buatan luar negeri yang bikin bapak makin berwibawa…

 

Bapak Kumis yang terhormat…

Salut saya dengan bapak dengan semangat tolong - menolong yang anda miliki

Dengan hebat anda bilang “kalau saya tidak membantu bukankah ini diskriminasi?”

Pantas lah si rayap bau lumpur itu bisa tersenyum lebar dengan  itu jadi rayap paling kaya di hutan kita ini….

 

Tapi Bapak kumis yang terhormat….

Apa Bapak tahu apa itu “diskriminasi” ?

Dimana “diskriminasi” ketika si rayap bau lumpur itu menenggelamkan sarang penduduk hutan kita….megep - megep boro - boro gak ada yang bantuin 

Kata si rayap bau lumpur itu “sudah!” ooo…sudah…

Dimana “diskriminasi” ketika bapak Kumis sibuk “meresmikan” landasan untuk capung - capung mancanegara bisa mampir….ehh pasirnya malah ngeruk jatah makan orang….

 

Bapak Kumis yang terhormat….

Bapak memang hebat….

Bisa senyum dengan meyakinkan seolah - olah tak terjadi apa - apa

Mungkin bapak memang sadar kalau perilaku manusia kadang tak lebih baik dari penghuni hutan….

 

 

Vale !

November 8th, 2008

Haruskah kita turut “merayakan” kematian mereka ?

Posted by fahmip in politik

Amrozi, Imam Samudera dan satu kawannya yang gue lupa namanya memang tinggal menunggu ajalnya detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam atau bahkan hari. Kematian yang membayangi mereka lewat eksekusi mati yang sampai hari ini masih terus tertunda, seakan tidak menyurutkan semangat mereka dalam membela agama Tuhan. Reaksi umat Islam sendiri pun bermacam - macam baik yang tak sabar menunggu kematian mereka dengan sorak sorai ataupun yang mengancam akan melakukan tindak balas terhadap pemerintah kalau memang eksekusi itu jadi dilakukan.

Islam senantiasa menjadi sebuah jalan hidup yang penuh kontroversi dimata para manusia yang meyakini ideologi jalan lain untuk mengarungi samudera kehidupan ini, tak terkecuali di Indonesia dimana masyarakat dari berbagai keyakinan sampai atheis sekalipun berkumpul dalam suatu wadah yang diberi nama NKRI ini. Sedari dulu Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kalau para pemeluk agama Islam akan senantiasa asing dan terasing sehingga bukan suatu hal yang mengherankan lagi bagi para muslimin - muslimat dalam menghadapi kenyataan tersebut. 

Terlebih setelah peristiwa 9/11 seakan - akan Islam menjadi suatu ideologi berdarah yang mungkin harus dibasmi dari muka bumi ini, sembari orang melupakan apa yang terjadi di Soviet di bawah Stalin atau bahkan akibat Kapitalisme yang dimotori negara - negara Barat dalam merubah peta politik di negara - negara yang menjadi rival politiknya…sebut saja Nicaragua dengan pasukan Kontra - nya dan suatu tragedi kemanusiaan di negeri kita yang tetap menjadi misteri hingga hari ini, pembunuhan para anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. 

Amrozi, Imam Samudera dan seorang kawannya telah memilih jalan mereka sendiri dengan melakukan pengeboman di Bali yang menewaskan banyak manusia dan mengakibatkan kerugian materil yang tidak sedikit atas nama jihad. Bagi kelompok mereka itulah jalan yang memang harus ditempuh dalam memerangi kaum kuffar yang mengakibatkan jutaan penderitaan bagi kaum Muslimin. Kontroversial memang, karena memang gue sekalipun tidak menyetuji langkah keras yang bukan menjadi solusi untuk menumbangkan kapitalisme global dan sistem neoliberalisme yang bukan saja menyengsarakan ummat Islam namun telah menjerumuskan kemanusiaan dengan mengakibatkan berbagai derita di negara - negara dunia ketiga. Gue yang tidak mengerti hukum Islam namun sedikit sekali ini, mungkin percaya dengan argumen hukum qishas walau tidak berani menyatakan demikian bukan karena takut tapi karena terbatasnya ilmu yang gue miliki dimana dalam hukum tersebut seseorang yang membunuh bisa saja dikenakan hukum yang setimpal yakni hukum mati. Keadaan itulah yang ada didepan ketiga orang tersebut dan seolah menegaskan kalau orang Islam yang baik adalah orang yang senantiasa “memburu” kematian. Terdapat banyak sekali pertentangan fikiran dalam kepala gue bagaimana harus menyikapi hal ini.

Mari kita sedikit melanglang buana ke Mesir, tanah para Fir’aun, Sphinx dan piramida. Tanah yang juga menyimpan cerita bagaimana Allah Ta’ala menyelamatkan Bani Israil dari kejaran penguasa zalim yang akhirnya ditenggelamkan ke dalam Laut Merah yang kisahnya dengan jelas terekam dalam Al - Qur’an. Di tanah ini pula seorang Sayyid Quthb, seorang sastrawan Arab - Mesir yang mendapat berbagai kesempatan untuk belajar ke beberapa negara seperti Amerika dan juga seorang penulis yang brilian menyaksikan suatu hal yang membuatnya heran dan jijik ketika orang Eropa (terlebih Inggris) imperialis merayakan kematian Hassan Al - Banna dengan penuh sukacita solah hari tersebut memang disiapkan sebagai hari berpesta pora, peristiwa ini kelak yang membuatnya memutuskan untuk masuk ke dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin sampai ajalnya digantung oleh pemerintahan rezim Gamal Abdul-Nasser.

Kembali ke Amrozi & Co., gue mengakui dalam pandangan gue apa yang mereka lakukan adalah salah sebab ini bukanlah perng frontal satu sama lain dalam medan. Tapi suatu peristiwa yang diberitakan oleh suatu portal berita di internet membuat jiwa gue bergolak dan darah gue mendidih !

Masyarakat Bali mengadakan suatu “perayaan” yang dibungkus dalam tema “Bali berdoa bersama demi kemanusiaan”. Acara apa ini ??? ya mereka memang salah dan yang membuat kemarahan gue memuncak terdapatnya orang islam yang juga turut meramaikan “pesta” ini, apa yang sebetulnya ada di pikiran kalian wahai kaum Muslimin ?! Bukankah mereka sama seperti kalian melakukan sembahyang dan puasa beserta beberapa kewajiban lainnya ? inikah yang kalian sebut toleransi ??? Inikah yang kalian sebut ingin hidup berdampingan dengan damai beserta ummat lain, dengan merayakan tumpahnya darah saudara kalian ?? Ya mereka memang salah ! Tapi kalian tidak seharusnya merayakan “pesta” bersama kaum - kaum lain, seharusnya kalian berdoa dan sibuk mendidik anak - anak kalian langkah dan strategi apa yang harus diemban bagi para tunas muda Islam tersebut dalam menegakan keadilan, dan membawa rahmat bagi alam semesta lewat dien yang Allah turunkan lewat para nabi dan rasul yang berpeluh dan bersedia berjuang meregang nyawa dalam memperjuangkan yang haq ! Kalian tak percaya ini sebuah pesta ? kalau begitu buat apa kalian berkumpul sambil tersenyum dan membawa alat - alat musik ? bukankah ini namanya “perayaan” tak peduli dibungkus dengan nama apapun ?? 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Demi disebut “toleran” , “kooperatif”, dan “moderat” kalian tega ikut berpesta atas kematian saudara kalian ? Bukankah kalian seharusnya berfikir ini adalah sebuah kekalahan dan kesalahan strategi gerakan Islam dan sibuk merenung dan belajar kembali bukan dengan jalan membuat bom, tapi dengan otak bagaimana kita bisa mengangkat harkat ummat yang banyak tapi tak bermutu ini ! Nabi sudah lama mengatakan kelak akan datang zaman dimana kita banyak tapi seperti buih dilautan….bagaimana kita bisa kembali kepada keindahan dan kebaikan ajaran Islam kalau kalian masih lebih mencintai para thaghut daripada mencintai jalan yang diberkahi ini, dan bagaimana kita bisa saling menyayangi kalau kalian masih lebih mencintai orang lain daripada mencintai saudara kalian sendiri, wahai Muslimin yang diberkati Allah bukankah Rasulullah mengatakan kita ini seperti satu tubuh ? penderitaan sebagian anggota tubuh terasa oleh bagian tubuh yang lain ? Wahai Muslimin di Bali, kalian lebih suka mendengar para “cendekiawan” yang mengatakan kalau mereka juga Muslimin namun mereka lebih “maju, modern, dan berfirikan terbuka” ? yang justru karena “kepandaian” mereka seakan ketika mereka melihat kembali kepada bagian mereka (kaum Muslimin) melihat dengan pandangan melecehkan dan mendengus lalu berkata “kalian telah ketinggalan zaman, dengan demikian keyakinan ini harus dikritisi dan dirombak!” . Agama memang mengajarkan kita untuk kritis namun jika kalian masih mengaku Islam lalu mempreteli Islam satu - persatu lalu apa yang tersisa dalam Islam ? dan kalian masih bangga mengatakan bahwa kalian orang Islam ? Bukankah perilaku borjuis ini sama seperti perilaku para priyayi terdidik zaman kolonialisme Belanda dahulu dimana kaum borjuis itu memandang hina kepada sesama kaum pribumi namun yang kebetulan bernasib menjadi kaum proletar teritndas di zaman itu? Wahai saudaraku…jangan berlebihan ! kelak kalian akan tahu siapa yang berdusta dan kelak kalian akan melihat kalau dua kelompok Islam baik yang kalian agungkan tersebut dan kelompok Amrozi & Co. seperti cerminan satu sama lain yang tidak menjadi solusi untuk membawa ke jaman keemasan ummat ini kembali. 

 

”Wahai Tuan kami, ampunilah kami atas kesalahan-kesalahan kami, dan lepaskanlah kami dari kejahatan-kejahatan kami, dan matikanlah kami berserta orang-orang yang taat.” (Ali - Imran:193)”

Wassalam