tempat sampah gue…

September 2nd, 2008

Pemilu, pilih siapa ?

Posted by fahmip in politik

<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:"MS Mincho";
panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;
mso-font-alt:"MS 明朝";
mso-font-charset:128;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-format:other;
mso-font-pitch:fixed;
mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}
@font-face
{font-family:"\@MS Mincho";
panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
mso-font-charset:128;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-format:other;
mso-font-pitch:fixed;
mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"MS Mincho";}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

Pemilucopy

“Perbedaan
antar partai politik tidak ditandai dengan prinsip dan program-program mereka,
tapi dari jumlah kekuasaan yang mereka genggam…apa beda antar partai politik ? logika
penjualan pemilu menjawab: dalam jumlah walikota, gubernur, kursi parlemen dan
jabatan cabinet dalam politik musiman, angkalah yang memimpin dan konsepsi
ideologis dibedakan oleh kuantitas yang mereka genggam, bukan kualitas yang
mereka junjung!”. (
Subcomandante
Insurgente Marcos)

 

Pemilu 2009 sudah dekat, semua
partai berlomba – lomba dalam kampanye yang sudah mirip lari marathon ini,
panjang dan lama….9 bulan. Tentu tidak sedikit dana yang dibutuhkan buat partai
yang jumlahnya semakin menjamur ini di era kebebasan demokrasi. Bukan Cuma partai
yang bisa buat heboh juga mendapat
liputan di segala media, tapi justru anggota – anggota perorangan yang
mencalonkan diri menjadi caleg.

 Mulai
dari partai nasionalis “kerakyatan” sampai partai politik yang mengusung ideologi
agama dengan segala klaim yang dengan cerdik dinukil dair kitab suci. Tapi
kalau kita mau jujur, apa benar apa yang ditawarkan oleh peserta – peserta yang
akan saling sikut ini? Dari ideologi yang mengatakan akan membangun ekonomi
rakyat sampai mengatakan bahwa nilai – nilai Islami harus ditekankan di tengah
masyarakat. Menyoal klaim yang partai mengusung ideologi nasionalis kerakyatan,
kita belum lupa ada suatu partai besar berkharisma yang mempunyai banyak massa
yang mengatakan partai mereka selalu bela “wong cilik” tapi orang belum lupa
ketika partai ini berkuasa justru partai ini menjadi pengusung neoliberalisme
yang justru mengkhianati suara para orang – orang kecil yang lagi – lagi jadi
korban dengan menjuali satu persatu asset Negara dan menaikan harga – harag. Tekanan
dari pihak asing dan kurangnya integritas dan semangat pembelaan justru
menjadikan partai macam ini menjadi pembela setia para pemodal, lagi – lagi Negara
dibajak oleh kepentingan kapitalisme yang berniat menundukan kepentingan
masyarakat dibawah kepentingan jalannya proses produksi, herannya partai –
partai Islam juga seakan kehilangan taring ketika berhadapan dengan para
kapitalis besar ini….ribut hanya urusan pantat atau payudara (tentu sebagai
Muslim yang baik kita tetap perlu menjaga aurat, namun apakah Islam hanya
berhenti di urusan syahwat?).

 Dulu
persaingan sengit antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Masyumi benar –
benar membuat suasana tegang, namun karena kualitas para pemimpin kedua partai
maka siatuasi “panas” tersebut tidak jatuh sampai baku pukul walau sabotase
adalah hal yang umum, PKI memang keras bahkan pada salah satu halaman di
RepublikaOnline ada sebuah foto yang menunjukkan propaganda politik PKI yang
menyudutkan Masyumi dengan sebuah pamphlet “Jangan pilih badjingan politik!”. Keras
dan kasar memang, tentu orang dengan kualitas seperti pak M.Natsir tidak akan
berkhianat untuk menjadi “badjingan politik” alias politikus oportunis dan
busuk yang lebih mementingkan menggemukan perut dan mengurus urusan dibawah
pusarnya dibandingkan merealisasikan apa yang mereka janjikan kepada masyarakat
pemilih mereka, inilah tipe demokrasi borjuis….rakyat hanya sebuah kata yang
rajin didengungkan ketika PEMILU sudah dekat, rakyat memang berdaulat tapi
berdaulat untuk memilih mau makan apa hari ini? Mau pakai baju apa besok? Atau mau
beli mobil apa lusa nanti? Perilaku macam ini tentunya hanya menguntungkan
segelintir kelas yaitu kelas atas, dan ironisnya banyak pula umat Muslimin
Indonesia yang terjebak menjadi borjuis yang ingin hidup mapan sembari tetap
menonjolkan simbol – simbol “Islami”, dan para alim ulama dan cendekiawan masih
ditunggu keberanian mereka untuk menegur pemerintah dan mengganyang kepentingan
kapitalisme yang menjerumuskan Negara ini makin dalam ke dalam tikaman
neoliberalisme, sekalipun saya bukan simpatisan PKI atau seorang Marxis kita
tidak lupa akan poster – poster dan media promosi para Caleg yang banyak
berasal dari tokoh – tokoh lama yang pada era OrBa dahulu banyak melanggar HAM
dan memilih menjadi instrumen Negara yang menghabisi rakyatnya sendiri,
sekarang satu sama lain berlomba - lomba
saling tersenyum dan memasang muka ramah agar masyarakat mau memilih mereka. Kualitas
partai pengusung dan caleg model seperti inilah yang membuat PEMILU menjadi
busuk dn para kontestannya seperti barang buruk yang memaksa agar dibeli dengan
modal jualan satu, yaitu: bela rakyat!. Kalau sudah begini tidak salah kalau
saya kutip jargon PKI tadi, “jangan pilih badjingan politik !”. Vale! Untuk kesehatan.



Leave a reply