tempat sampah gue…

March 2nd, 2008

Genjer genjer

Posted by fahmip in Music

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler..
Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer

Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih
Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih.

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
Gendjer-gendjer
esuk-esuk digawa nang pasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
dudjejer-djejer diunting pada didasar
emake djebeng tuku gendjer
wadahi etas
gendjer-gendjer saiki arep diolah.

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
Gendjer-gendjer mlebu
kendil wedange umob
setengah mateng dientas digawe iwak
setengah
mateng dientas digawe iwak
sega sa piring sambel
penjel ndok ngamben
gendjer-gendjer dipangan musuhe sega.

Lagu dengan arti bahasa Indonesia:

Genjer2 tumbuh liar di selokan.
Ibu datang mencabut genjer.
Dapat sekarung lebih tanpa ragu.
Genjer sekarang bisa dibawa pulang

Genjer pagi2 dibawa ke pasar
Dijajar dan dibeberkan di lantai
Si Ibu beli genjer ditaruh di tas
Genjer2 sekarang akan diolah

Genjer2 dimasukkan ke panci air panas
Setengah matang ditiriskan
untuk lauk
Nasi sepiring sambal di tempat tidur
Genjer2 dimakan dengan
nasi

Kawan-kawan sekalian yang senantiasa melengkapi pengetahuannya tentang apa yang terjadi, pastinya tahu apa yang terjadi dengan lagu ini. Lagu rakyat yang dinyanyikan dalam bahasa Jawa ini diberangus habis-habisan oleh politik Orde Baru yang mencap bahwa lagu ini adalah lagu komunis, yaitu ideologi yang begitu dilarang dan ditakuti. Namun sebenarnya lagu genjer-genjer ini berbicara tentang apa sih sampai pemerintahan fasis orde baru begitu mengharamkan lagu daerah ini?

Saya dapat informasi dari internet dari salah satu blog (http://thesedays.digitalboedaja.com/?paged=2) bahwa sebenarnya lagu daerah ini diciptakan ketika Indonesia tengah diduki oleh Jepang, diciptakan oleh Muhammad Arief seorang seniman yang berasal dari Banyuwangi menceritakan penderitaan rakyat Banyuwangi bagaimana mirisnya dari daerah yang mempunyai hasil lebih dari pangan tiba-tiba mengalami krisis kelaparan luar biasa akibat pendudukan Jepang sampai daun genjer yang tumbuh di selokan pun jadi bahan makanan…saking sulitnya bahan pangan saat itu.

Lalu datanglah peristiwa yang oleh orde baru disebut dengan "Gerakan 30 September" peristiwa yang sampai hari ini pun tidak diketahui siapa dalangnya, yang meninggalkan luka perih dalam perjalanan sejarah bangsa ini dimana jutaan rakyat Indonesia dibantai habis….ya dibunuh besar-besaran bahkan ada yang dibuang ke Pulau Buru dan dipenjara tanpa pengadilan dan pemerintah sampai hari ini tidak punya inisiatif untuk minta maaf atas dosa-dosa masa lalu. Semua yang "berbau" komunis pun diberangus, genjer-genjer yang dinyanyikan oleh seniman besar Indonesia macam Bing Slamet dan Lilis Suryani yang saya dengar pernah menyanyikan lagu ini di istana negara untuk menghibur Bung Karno pun seolah-olah menjadi lagu kematian yang HARAM untuk diperdengarkan lagi !.

Marxisme pernah mengungkapkan bahwa media sering kali digunakan oleh kelas yang berkuasa untuk mempropagandakan ideologi mereka dan menancapkan hegemoni mereka atas apa yang seharusnya rakyat dengar, lihat dan kemudian yakini. Namun kalau kita cermati dengan akal sehat dan juga mengetahui sejarah di balik lagu ini sebenarnya apa yang berbahaya ???? lagu ini bercerita tentang susahnya orang karna bahan pangan mereka dirampas oleh kekuatan penindas (yaitu tentara Jepang di Banyuwangi) namun Orde Baru dengan lihainya membuat rakyat nya menafikan dan sebaliknya mempercayai dengan membabi-buta kalau ini adalah lagu komunis..ideologi yang anti-tuhan alias kapir !!!! (pakai "p" bukan "f", sengaja saya tulis demikian kalau anda perhatikan orang2 tertentu saking membabi-butanya sampai bicara pun tidak benar)

Ah…bukankah ini sebuah pembodohan yang luar biasa ? seni hadir di tengah tengah umat manusia untuk membuat kita bisa lebih menyentuh sisi-sisi estetika dalam hidup yang seringkali hilang karena kita teralienasi dari sisi indah kita sebagai manusia setelah menjalani pekerjaan yang luar biasa menyita waktu dan tenaga kita. Indonesia pun sebenarnya menyimpang segudang penyair macam Rendra, atau sastrawan macam HB.Yassin, penggubah lagu macam Wage Supratman dan orator ulung macam Bung Karno namun begitulah yang terjadi di bawah pemerintahan otoriter seringkali rakyat dianggap hanya sebagai kelompok yang harus turut saja apa kata bos besar, ah..memang ajaib negri kita ini tidak heran sekarang kalau banyak saudara sebangsa kita yang kurang menghargai akal sehat

Ya…ajaib



Leave a reply