Dalam dekapan bayang tak berwajah
Dalam dekapanmu ibuku…
Tak ada sedikitpun keraguan dalam timanganmu
Engkau mengenalkanku pada Rabb ku
IA mengenalkanku pada kehidupan mereka, engkau dan aku…
Ku begitu yakin wahai ibu
Hidup adalah apa yang nampak didepanku, ia bagai berkelebat begitu cepat
“Nikmati, hidupmu memang begini!” kutatap kotak itu mereka bagai bergerak
dan terserak…
Dengan lantang mereka bisa berteriak “Jangan ragu, hidupmu hanya sekali!!!’
Kujalani hidupku dalam timanganmu O…itu masa orok !
Aku berak, sunat dan akhil baligh pun
Kutatap dan kutantang masa depan
Dengan pongah aku pun bilang “kau akan kutaklukkan !”
O…pemuda yang maju, terpelajar, hei… itu aku
Aku bersolek sampai molek, aku tidak jelek !
Kuhina mereka yang berdiri di seberang jalan cuih…..kuludahi !
Spit on your grave ! kata si mata biru
Orang – orang bodoh gumamku…
Dan dentuman kata – kata Tuhanku tiba….
Bahwa kita tiada hidup untuk perut kita sendiri wahai ibuku
Kutatap kepongahanku…nampak bayanganku
“buta, bisu, tuli” macam bayangku…hitam kelam
Bayangku, bayang tak berwajah
Dan aku tahu ibu, bahwa itu aku