tempat sampah gue…

November 19th, 2007

Kumpulan puisi Widji Thukul

Posted by fahmip in politik

Inilah kumpulan puisi perlawanan dari seorang penyair yang hilang di akhir kekuasaan Orde Baru, Widji Thukul. Semoga semangatnya tetap tinggal bersama kita menentang semua kezaliman dan ketidakberpihakkan pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung rakyatnya, bukan jadi anjing yang senantiasa menggonggong dan mencabik - cabik.

Selamat Jalan Kawan !

==========================================================================

Seorang Buruh Masuk Toko

      masuk toko
      yang pertama kurasa adalah cahaya
      yang terang benderang
      tak seperti jalan-jalan sempit
      di kampungku yang gelap

      sorot mata para penjaga
      dan lampu-lampu yang mengitariku
      seperti sengaja hendak menunjukkan
      dari mana asalku

      aku melihat kakiku - jari-jarinya bergerak
      aku melihat sandal jepitku
      aku menoleh ke kiri ke kanan - bau-bau harum
      aku menatap betis-betis dan sepatu
      bulu tubuhku berdiri merasakan desir
      kipas angin
      yang berputar-putar halus lembut
      badanku makin mingkup
      aku melihat barang-barang yang dipajang
      aku menghitung-hitung
      aku menghitung upahku
      aku menghitung harga tenagaku
      yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik
      aku melihat harga-harga kebutuhan
      di etalase
      aku melihat bayanganku
      makin letih
      dan terus diisap..

E D A N

      sudah dengan cerita mursilah?
      edan!
      dia dituduh maling
      karena mengumpulkan serpihan kain
      dia sambung-sambung jadi mukena
      untuk sembahyang
      padahal mukena tak dibawa pulang
      padahal mukena dia taroh
      di tempat kerja
      edan!
      sudah diperas
      dituduh maling pula

      sudah dengan cerita santi?
      edan!
      karena istirahat gaji dipotong
      edan!
      karena main kartu
      lima kawannya langsung dipecat majikan
      padahal tak pakai wang
      padahal pas waktu luang
      edan!
      kita mah bukan sekrup

      Bandung 21 Mei 1992

P E N Y A I R
      jika tak ada mesin ketik
      aku akan menulis dengan tangan
      jika tak ada tinta hitam
      aku akan menulis dengan arang

      jika tak ada kertas
      aku akan menulis pada dinding
      jika aku menulis dilarang
      aku akan menulis dengan
      tetes darah!

      sarang jagat teater
      19 januari 1988

"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan menganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: Lawan!"

"Suara - suara itu tak bisa dipenjarakan
Di sana bersemayam kemerdekaan
Apabila engkau memaksa diam
Aku siapkan untukmu:…..Pemberontakan !!"

November 14th, 2007

Bangsa yang kerdil adalah bangsa yang melupakan masa lalunya

Posted by fahmip in politik

Di negeri kita yang lucu ini sudah tidak asing lagi kalau kita melihat seseorang dihormati kalau ia termasuk dalam golongan orang berekonomi menengah keatas. Tidak salah memang, karena orang menengah keatas lah yang mempunyai modal dan dengan itu mereka bisa memutar roda perekonomian serta menciptakan lahan pekerjaan. Namun bangsa kita lupa kalau seseorang tidaklah menjadi mulia atau terhormat semata - mata karena dia berduit atau berasal dari golongan berdarah biru.

Beberapa hari lalu di acara newsdotcom yang ditayangkan oleh Metro TV, disiarkan lah kisah Pak Sardi (kalau tidak salah ketik) yang merupakan asisten Jenderal Soedirman tokoh perjuangan Indonesia yang tentunya tidak asing namanya bagi penduduk negeri ini. Pak Sardi semasa mudanya berjuang bersama sama dengan Jenderal Soedirman bahkan menjadi penjaga sang jenderal naik turun gunung maupun berpindah - pindah sampai akhir hayat Jenderal Soedirman. Orang seperti Pak Sardi memang tidak ingin dikenang atau dipuji setinggi langit, mereka berjuang untuk sesuatu yang mereka percayai dan pada saat itu kemerdekaan bangsa ini supaya rakyat bisa hidup mulia tidak dibawah injakan kaki kotor imperial. Berbicara tentang kehormatan, rupanya sudah menjadi fitrah manusia bahwa jika ia bekerja maka itu akan mengangkat status hidup dan kemuliaanya dimana sudah menjadi kepastian mereka lebih mulia daripada peminta - minta. Namun apa yang Pak Sardi dapatkan ? Orde Baru hanya memberikan piagam, begitupun dengan bupati kota beliau tinggal dimana itupun baru diserahkan setelah Metro TV meliput kehidupan Pak Sardi sebelumnya, sekarang karena beliau memang mempunyai semangat juang yang tinggi beliau tidak merasa hina untuk bekerja kasar di pasar sebagai penyapu, kontras dengan para pejabat negeri ini maupun yang duduk dengan santainya di gedung veteran di Jakarta. Beliau hanya meminta hak nya sebagai pensiunan tentara yang ironisnya setelah beliau pensiun lebih dari 30 tahun lalu tidak pernah beliau dapatkan, ironis……terkutuklah bangsa ini !!!!!